Beberapa orang tua yang menerima tunjangan kini berpeluang mendapatkan hingga £4.500 ketika anak mereka memulai program magang. Kebijakan ini bertujuan mendorong transisi dari sekolah ke dunia kerja yang lebih terstruktur. Namun di balik insentif tersebut, ada dinamika yang membuat sejumlah keluarga justru ragu mendorong anak mengambil jalur magang.
Sistem tunjangan saat ini sering kali membuat pendapatan keluarga menurun ketika anak mulai bekerja, meskipun hanya sebagai peserta magang. Hal ini menciptakan situasi di mana orang tua secara tidak langsung didorong untuk menunda atau bahkan menghindari pilihan magang bagi anak mereka. Akibatnya, banyak anak dari keluarga berpenghasilan rendah yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman kerja langsung.
Dampaknya terlihat pada keterampilan praktis yang seharusnya bisa diperoleh lebih awal. Di sektor teknologi misalnya, program magang sering menjadi pintu masuk bagi talenta muda untuk menguasai tools digital dan coding sejak dini. Ketika insentif keluarga tidak selaras dengan jalur ini, jumlah peserta magang di bidang teknologi berpotensi stagnan.
Selain itu, data pasar tenaga kerja menunjukkan bahwa lulusan magang cenderung memiliki tingkat pengangguran lebih rendah dibandingkan mereka yang langsung melanjutkan pendidikan formal tanpa pengalaman kerja. Ketidaksesuaian antara tunjangan dan skema magang bisa memperlebar kesenjangan keterampilan di industri yang membutuhkan tenaga terlatih cepat.
Pemerintah sedang mempertimbangkan penyesuaian agar tunjangan tidak langsung dipotong saat anak memulai magang. Langkah ini diharapkan bisa menyeimbangkan kebutuhan ekonomi keluarga dengan peluang pengembangan karir anak. Tanpa perubahan, risiko kehilangan generasi muda yang siap kerja di bidang teknologi akan semakin besar.











